Home » » makalah corba

makalah corba

Written By Olan on Wednesday, 27 June 2012 | 20:53

KATA PENGANTAR


Bismillahhirrahmanirrahim.

Dengan memanjatkan do'a dan puji syukur kehadirat Allah SWT serta sholawat serta salam tercurahkan ke junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul CORBA

Adapun penulisan makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari segala pihak yang membantu terselesaikannya makalah ini.

Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :Dosen Pengasuh yang telah memberikan tugas untuk pembuatan makalah ini.Rekan se-profesi yang membantu dan mendorong serta memberikan informasi yang sangat diperlukan dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan.Semua pihak yang telah ikut berpartisipasi, serta telah memberikan semangat dalam membantu menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan sumbangan pikiran, pendapat serta saran – saran yang berguna demi penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca.

PENULIS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mari kita bayangkan masa depan, saat hampir semua aktivitas manusia memanfaatkan komputer sebagai sarana utamanya. Berbagai basis data berskala besar telah disimpan dalam format elektronis. Demikian pula berbagai aplikasi yang mendasarkan pada basis data telah dikomputerisasi dalam sebuah lingkungan jaringan komputer yang meliputi berbagai instansi dan perusahaan. Pada saat itu dimensi ruang benar-benar telah berkontraksi sedemikian rupa sehingga dunia maya seakan-akan telah menjadi dunia nyata dan berbagai aspek kehidupan manusia terhubung melalui suatu jaring-jaring yang amat kompleks.

Ilustrasi berikut ini bisa menggambarkannya. Misalnya si A sakit dan pergi ke dokter langganannya. Jika hasil diagnosa mengharuskan si A harus masuk ke rumah sakit, maka pemilihan RS dan pemesanan tempat dapat dilakukan pada saat itu juga melalui komputer di tempat praktek dokter. Selanjutnya komputer di RS dapat mengontak komputer perusahaan asuransi kesehatan untuk pengurusan pembayaran biayanya. Jika si A memerlukan obat atau peralatan khusus, maka komputer si dokter dapat memberitahu di apotik mana obat atau peralatan tersebut tersedia. Cerita ini dapat diperpanjang, tapi intinya adalah bahwa satu aksi dapat memicu berbagai aktivitas lain yang saling berhubungan.

Ilustrasi di atas nampaknya tidak lagi jauh dari kenyataan yang ada saat ini. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa teknologi untuk menuju ke sana saat ini sudah dimiliki manusia. Selain teknologi mikroelektronik dan telekomunikasi, maka teknologi lain yang berperanan penting adalah teknologi sistem komputer terdistribusi (distributed computer systems).

Sistem komputer terdistribusi adalah sebuah sistem yang memungkinkan aplikasi komputer beroperasi secara terintegrasi pada lebih dari satu lingkungan yang terpisah secara fisis. Sistem informasi kesehatan yang diilustrasikan di atas menunjukkan komponen-komponen aplikasi yang terdistribusi (di tempat praktek dokter, di rumah sakit, di apotik, dan di perusahaan asuransi kesehatan). Ciri khas sistem komputer terdistribusi adalah heterogenitas dalam berbagai hal: perangkat keras, sistem operasi, dan bahasa pemrograman. Adalah tidak mungkin untuk mengembangkan sistem terdistribusi yang homogen secara paksaan, karena secara alamiah sistem komputer terdistribusi tumbuh dari lingkungan yang heterogen. Kata kunci dalam menjembatani perbedaan-perbedaan yang muncul adalah interoperabilitas (interoperability).

CORBA (Common Object Request Broker Architecture) adalah suatu standard untuk sistem objek oriented terdistribusi yang dikembangkan oleh OMG. CORBA memungkinkan kita menggunakan aplikasi tanpa adanya batasan platform, teknologi jaringan, bahasa pemrograman, maupun letak objek pemberi service yang dituju. CORBA sebagai system yang terdistribusi, memiliki potensi yang besar untuk ditembus dari berbagai sisi. Karena itu diperlukan suatu sistem pengamanan yang memadai pada CORBA. Makalah ini akan membahas mengenai Arsitekut CORBA dan system kemanan pada CORBA.

Keunikan dari CORBA adalah kemampuannya dalam menangani heterogenitas antara client dan server (dalam terminologi CORBA, obyek server dinamakan implementasi obyek (object implementation). Keduanya dapat saja diimplementasikan dalam hardware, sistem operasi, bahasa pemrograman, dan di lokasi yang berbeda, tetapi tetap bisa saling berkomunikasi. Kuncinya ada pada sebuah lapisan software yang disebut dengan ORB(Object Request Broker).

BAB II

PEMBAHASAN

B. Arsitekur Corba

CORBA (Common Object Request Broker Architecture) merupakan suatu spesifikasi yang dikembangkan oleh OMG (Object Management Group), sebuah konsorsium yang terdiri lebih dari 800 perusahaan.

Tujuan CORBA adalah untuk pengembangan pemrograman objek terdistribusi. CORBA bukanlah bahasa pemrograman, tapi merupakan spesifikasi untuk mengembangkan objek-objek terdistribusi. Beberapa software yang mengimplementasikan COBA misalnya ORBIX (oleh IONA Technologies), VisiBroker (oleh Insprise), dan JavaIDL (oleh JavaSoft). CORBA memiliki arsitektur yang berbasiskan model objek. Model ini diturunkan dari abstrak Core Object Model yang didefiniskan OMG di dalam OMA (Object

Management Architecture). Model ini merupakan gambaran abstrak yang tidak dapat diimplementasikan tanpa menggunakan teknologi tertentu. Dengan model tersebut, suatu aplikasi dibangun dengan standard yang telah ditentukan. Sistem CORBA terdiri dari objek-objek yang mengisolasi suatu client dari suatu server dengan menggunakan interface enkapsulasi yang didefinisikan secara ketat. Objek objek CORBA dapat berjalan di atas berbagai platform, dapat terletak dimana saja dalam suatu network, dan dapat dikodekan dengan bahasa pemrograman apapun asal memiliki IDL mapping.

Object Management Architecture (OMA) mendefinisikan berbagai fasilitas highlevel yang diperlukan untuk komputasi berorientasi objek. Bagian utama dari OMA adalah Object Request Broker (ORB). ORB merupakan suatu mekanime yang memberikan transparansi lokasi, komunikasi, dan aktivasi. Suatu objek. ORB adalah semacam software bus untuk objek-objek dalam CORBA. Berdasarkan OMA, spesifikasi CORBA harus dipatuhi oleh ORB.

CORBA disusun oleh komponen-komponen utama :

1. ORB (Object Request Broker)

2. IDL (Interface Definition Language)

3. DII (Dynamic Invocation Interface)

4. IR (Interface Repositories)

5. OA (Object Adapter)

Ø Komponen CORBA pada sisi Client:

1. Client Application

2. Client IDL Stubs

3. Dynamic Invocation Interface

4. Interface Repository

5. Client Side ORB Interface

6. ORB Core

Ø Komponen CORBA yang terletak di sisi Server

1. Server Side ORB Interface

2. Static IDL Skeleton

3. Dynamic Skeleton Interface 4. Object Adapter

5. Server Side Implementation

v Object Request Broker (ORB)

ORB merupakan inti dari CORBA dan bertanggung jawab untuk menjalankan semua

mekanisme yang dibutuhkan, yaitu:

1. Menemukan implementasi objek untuk memenuhi suatu request

2. Menyiapkan implementasi objek untuk menerima suatu request

3. Melakukan komunkasi data untuk memenuhi suatu request

Sebuah permintaan (request) yang dikirimkan suatu client ke suatu object implementation akan melewati ORB. Dengan ORB, yang terdiri dari interface, suatu client dapat berkomunikasi dengan object implementation tanpa adanya batasan platform, teknologi jaringan, bahasa pemrograman, dan letak objek.

Dengan menggunakan ORB, objek client bias meminta sebuah method pada sebuah object server yang bisa saja terdapat dalam satu mesin maupun jaringan yang berbeda. ORB menerima panggilan dan menemukan objek yang bisa mengimplementasikan permintaan, mengirim parameter, invoke method, dan mengembalikan hasil yang diperoleh.

v Client

Secara umum, client adalah suatu program/proses yang melakukan request pada suatu objek. Terdapat pula client relative, yaitu suatu objek yang menjadi client dari objek lainnya.

Client suatu objek harus mengakses OR (Object Reference) suatau objek tertentu untuk melakukan operasi pada suatu objek. Client hanya mengetahui struktur logika suatu objek melalui interface yang dimiliki objek tersebut dan behaviour yang dimiliki objek tersebut saat dipanggil.

Secara umum, client mengakses objek dan ORB melalui language mapping.

Client dapat bersifat portable dan seharusnya dapat berjalan tanpa harus mengubah kode pada ORB yang mendukung language mapping berbeda dengan objek instance yang mengimplementasikan interface berbeda. Untuk membuat suatu request, client dapat menggunakan

1. DII (Dynamic Invocation Interface) yaitu suatu interface yang tidak tergantung pada

inteface objek yang dituju

2. IDL Stub, yang tergantung pada interface objek yang dituju.

(ctt. Untuk fungsi-fungsi tertentu, client dapat berinteraksi secara langsung dengan ORB)

v Object Implementation (OI)

Suatu Object Implementation (OI) menyediakan semantik dari objek, yang umumnya dilakukan dengan mendefiniskan data untuk object instance dan kode untuk method-method objek tersebut. Seringkali kita menggunakan objek lain atau menggunakan software tambahan untuk mengimplementasikan sifat suatu objek. Berbagai Object Implementation (OI) dapat didukung oleh server yang terpisah, librarys, sebuah program setiap method, aplikasi terenkapuslasi, object-oriented database, dan lain-lain. Dengan menggunakan object adapters (OA) tambahan,

dimungkinkan untuk mendukung suatu Object Implementation (OI) secara virtual. Secara umum, Object Implementation (OI) tidak tergantung pada ORB atau bagaimana suatau client memanggil suatu objek. Object Implementation (OI) dapat memilih interface-nya ke ORB-dependent service yang dipilih dengan memilih Object Adapter (OA).

Object Implementation (OI) menerima suatu request melalui

1. IDL Skeleton

2. Dynamic Skeleton Interface(DSI)

Object Implementation (OI) dapat memanggil Object Adapter (OA) dan ORB pada saat memproses sebuah request.

v Interface

Inteface suatu objek dapat didefinisikan dengan cara statis, yaitu menggunakan IDL (Interace Definition Languange). IDL mendefiniskan tipe suatu objek berdasarkan operasi-operasi (yang mungkin dijalankan pada objek tersebut) dan parameter operasi tersebut.

Interface dapat pula ditambahkan ke dalam suatu IRS (Interface Repository Service) yang menggambarkan komponen-komponen dari interface suatu objek. Client dapat mengakses komponen-komponen ini saat runtime. Client meminta suatu request dengan melakukan akses ke OR (Object Reference) suatu objek yang dituju dan mengetahui tipe dari objek dan operasi-operasi yang dapat dilakukan pada objek tersebut. Client menginisialisasi request dengan memanggil rutinrutin suatu stub yang sesuai dengan objek atau membangun request secara dinamik. Interface dinamik dan interface stub harus memeiliki semantic request yabng msa dalam pemanggilan suatu request. ORB mencari implementation code yang dituju, mengirimkan parameterparameter dan mentransfer kontrol pada Object Implementation memalui IDL Sekeleton atau Dynamic Skeleton. Secara spesifik, skeleton berupa interface dan OA (Object

Adapter).

Dalam mengolah suatu request, Object Implementation memberikan service pada ORB melalui OA (Object Adapter). Saat suatu request selesai dijalankan, control dan nilai keluaran dikembalikan ke client. OI dapat memilih OA yang akan digunakan. Keputusan pemilihan OA ditentukan oleh jenis service yang dibutuhkan oleh OI tersebut. Infomasi tentang OI diberikan pada saat instalasi dan disimpan dalam IR (Implementation Repository) yang digunakan selama pengiriman hasil request. Dalam arsitekturnya, ORB tidak perlu dimplementasikan dalam sebuah

komponen tunggal; namun, ORB didefinisikan menggunakan interface-interface yang dimilikinya. Interface-interface tersebut dikelompokan menjadi:

1. operasi yang sama untuk semua implementasi ORB

2. operasi khusus untuk tipe objek tertentu

3. operasi khusus untuk style OI tertentu

v Object Reference (OR)

Object Reference (OR) merupakan informasi yang dibutuhkan untuk menentukan sebuah objek dalam ORB. Client dan Object Implementation (OI) memiliki bagaian yang tertutup dari OR dengan language mapping, yang kemudian disekat dari representasi aktualnya. Duaimplementasi ORB dapat memiliki representasi OR yang berbeda. Representasi OR pada sisi client hanya valid selama masa hidup client tersebut. Semua ORB harus menyediakan language mapping yang sama untuk sebuah OR (umumnya disebut objek) untuk sebuah bahasa pemrograman tertentu. Hal ini memungkinkan sebuah program ditulis dalam bahasa apapun untuk mengakses OR secara independen terhadap ORB terntentu.

v Interface Definition Language (IDL)

Objek-objek CORBA dispesifikasikan menggunakan interface, yang merupakan penghubung anatara client dan server. Interface Definition Language (IDL) digunakan untuk mendefinisikan interface tersebut. IDL menentukan tipe-tipe suatu objek dengan mendefinisikan interface-interface objek tersebut. Sebuah interface terdiri dari kumpulan operasi dan parameter operasi

tersbut. IDL hanya mendeskripsikan interface, tidak mengimplementasikannya. Meskipun sintaks yang dimiliki oleh IDL menyerupai sintaks bahasa pemrograman C++ dan Java., perlu diingat, IDL bukan bahasa pemrograman. Melalui IDL, Object Implementation (OI) akan memberitahu client --yang akan mengaksesnya—operasi apa saja dan method apa saja yang harus dipanggil client tersebut.

Dari definisi IDL, objek-objek CORBA dipetakan ke bahasa pemrograman –C, C++, Java, dan lain-lain—yang memiliki IDL mapping. Bahasa Pemrograman yang berbeda dapat mengakses objek-objek CORBA dalam bebagai cara yang berbeda. Pemetaan dari IDL ke bahasa pemrograman tertentu harus sama untuk semua implementasi ORB. Language Mapping ini menyertakan definisi tipe data untuk bahasa pemrograman terntentu dan procedure interface untuk mengakses objek melalui ORB. Ini meliputi:

1. Struktur dari client stub interface (tidak dibutuhkan untuk bahasa OOP)

2. Dynamic Invocation Interface

3. Implementation Skeleton

4. Object Adapters

5. Direct ORB Interface

Language Mapping juga mendefinisikan interaksi antara pemanggilan objek dan langkah kontrol pada client dan implementasi. Pemetaan yang paling umum menyediakan syncrhonous call, dimana rutin mengembalikan nilai pada saat operasi suatu objek selesai dilakukan. Pemetaan tambahan memungkinkan sebuah call diisisiasi dan control dikembalikan kepada program

.

v Dynamic Invocation/Skeleton Interface

IDL interface yang digunakan oleh sebuah client ditentukan pada saat client dikompilasi. Hal tesebut mengakibatkan seorang programmer hanya dapat menggunakan server-server yang terdiri dari objek-objek yang mengimplementasikan interfaceinterface tersebut.

Bila suatu aplikasi membutuhkan interface-interface yang tak didefiniskan saat kompilasi, maka diperlukan DII (Dynamic Invocation Interface) atau pun DSI (Dynamic Skeleton Interface). DII memungkinkan suatu aplikasi/client memanggil operasi-operasi dari sembarang interface. DSI menyediakan suatu cara untuk mengirim request dari sebuah ORB ke sebuah Object Implementation (OI) tanpa harus mengetahui tipe dari objek pada saat kompilasi.

v Dynamic Invocation Interface (DII)

CORBA mendukung DII dan SII. Operasi invocation dapat dilakukan menggunakan static interface ataupun dynamic interface. Static Invocation Interface (SII) ditentukan pad saat kompilasi dan dihubungkan dengan client mengunakan stub. Sedangkan Dynamic Invocation Interface (DII) memungkinkan apliaksi di sisi client untuk menggunakan server object tanpa perlu mengetahui tipe obek-objek tersebut saat kompilasi. DII memungkinkan client untuk mendapatkan sebuah instance dari objek CORBA dan membuat invocation pada objek tersebut dengan menciptakan request yang sifatnya dinamis. DII menggunakan Interface Repository (IR) untuk memvalidasi dan mengambil identifier operasi pada suatu request yang dibuat.

Client menggunakan Interface Repository (IR) untuk mempelajari tentang interface-objek yang tidak diketahui dan client menggunakan DII untuk memanggil methods suatu objek.

Empat tahap yang diperlukan saat penggunaan Dynamic Invocation Interface (DII):

1. Mengidentifikasikan target objek yang akan dipanggil

2. Mendapatkan target interface dari objek tersebut

3. Membangun invocation

4. Mengirim request da mendapatkan respon

Aplikasi-aplikasi client yang menggunakan Dynamic Invocation Interface (DII) tidak

lebih efisien dari yang menggunakan SII, tapai ada dua keuntungan menggunakan DII, yaitu:

-Aplikasi client dapat melakukan permintaan kepada setiap operasi meskipun tersebut

tidak diketahui pada saat aplikasi dikompilasi

-Apliaksi client tidak harus dikompilasi ulang untuk mengakses OI yang diaktivasi ulang

v Dynamic Skeleton Interface (DSI)

Dynamic Skeleton Interface (DSI) menyerupai DII, namun tereletak di sisi server. DSI

memungkinkan server ditulis tanpa harus mempunyai skeleton-skeleton atau informasi tentang waktu kompilasi, dan untuk objek mana server ini diimlementasikan. Fungsi utama Dynamic Skeleton Interface (DSI) adalah mendukung implementasi gateway antara ORB yang memiliki protocol komunikasi berbeda.

v Object Adapter (OA)

Object Adapter (OA) merupakan cara utama bagi sebuah Object Implemetation (OI) untuk mengakses service yang disediakan oleh ORB. Tugas utamanya adalah melakukan masking (menutupi) perbedaan dalam implementasi objek untuk memperoleh portability yang lebih tinggi.

v ORB Interface

ORB Interface Merupakan interface yang berhubungan langsung dengan ORB yang sama untuk semua ORB dan tidak tergantung pada interface suatu objek atau Objek Adapter (OA). Karena banyak fungsionalitas ORB yang disediakan melalui OA, stub, skeleton, maupun dynamic invocation; maka ada sedikit operasi yang umum bagi semua objek.

v Inteface Repository (IR)

Interface Repository (IR) merupakan online database yang berisi tentang meta informasi tentang tipe dari objek ORB. Meta ionformasi yang disimpan meliputi informasi tentang modul, interface, operasi, atribut, dan eksepsi dari objek. Interface Repository (IR) menyediakan cara lain untuk menentukan interface ke suatu objek. Interface ini dapat ditambahakan ke layanan IR. Dengan menggunakan IR, sebuah client akan mencari objek yang tidak diketahui pada saat kompilasi, menemukan informasi tentang interface objek tersebut dan implementasi suatu aktivasi dan deaktivasi.

ORB biasa menggunakan IR untuk:

1. menyediakan interoperability antar implementasi ORB yang berbeda

2. menyediakan type checking dari signature sebuah request yang melalui SII dan DII

3. Mengecek kebenaran grafik inheritance

4. Mengelola instalasi dan distribusi interface definition alam sebuah jaringan

5. Mengeizinkan designer apliaksi untuk memodifikasi interface definition

6. Mengizinkan language compiler untuk mengcompile stub dan skeleton dari IR

bahkan langsung dari file IDL.

v Implementation Repository

Implementation Repository terdiri dari informasi yang memperbolehkan ORB untuk mencari dan mengaktivasi implementasi suatu objek. Meskipun untuk suatu ORB atau lingkungan operasi, Implementation Repository merupakan tempat yang konvensional untuk menyimpan suatu informasi.

v Internet Inter-ORB Protocol (IIOP)

CORBA mendefinisikan IIOP (Internet Inter-ORB Protocol) untuk mengatur bagaimana objek berkomunikasi melalui jaringan. IIOP merupakan open protocol yang berjalan diatas TCP/IP.

v Sistem Keamanan pada CORBA

Selain mendefinisikan arsitektur CORBA, OMG (Object Management Group) juga mengembangkan definisi formal untuk servis keamanan pada CORBA. Keamanan (security) merupakan hal sangat vital pada sistem komputer modern, terutama untuk sistem terdistribusi yang lebih mudah diserang dari pada system trandisional biasa. Oleh karena itu servis yang menunjang keamanan sangat diperlukan dalam system terdistribusi seperti CORBA.

v Sistem Kemananan

Sistem keamanan (sekuriti) adalah proteksi umum suatu sistem informasi dari orang-orang yang akan melakukan akses yang tak diizinkan maupun interferensi dalam pengiriman informasi. Secara umum, keamanan berkenaan dengan masalah:

Confidentiality (informasi hanya diberikan pada user yang berhak mengaksesnya)

Integrity (informasi hanya boleh diubah oleh user yang berhak mengubahnya)

Accountability (aksi-aksi user yang berhbungan dengan keamanan selalu dicatat)

Avaiability (sistem selalu tersedia bagi user yang berhak mengaksesnya)

Sebagai tambahan dari hal-hal mendasar tersebut, spesifikasi OMG juga

menyebutkan sejumlah ancaman (threat) dan sejumlah fitur (ferature) penting untuk

mencapai tujuan (goal) dari sistem kemananan.

v Ancaman

Banyak ancaman yang terdapat pada suatu sistem informasi karena selalu saja ada\ orang yang mencoba untuk menjebol sistem tersebut dan berusaha mendapatkan informasi yang seharusnya tidak boleh diakses mereka. Sistem objek terdistribusi, semisal CORBA, lebih mudah diserang dari pada sistem-sistem tradisional. Hal ini dikarenakan pada sistem terditribusi terdapat banyak komunikasi antar komponen software yang beraneka macam sehingga menjadi peluang

bagi para penjebol sistem.

Beberapa jenis ancaman yang dideskripsikan dalam spesifikasi OMG adalah:

Ø Kontrol keamanan (security control) di-bypass oleh orang lain

Ø Seorang authorised user mendapatkan akses pada informasi yang seharusnya disembunyikan darinya

Ø Seorang user menyamar sebagai orang lain dan mendapatkan akses, sehingga aksinya

Ø tercatat dilakukan oleh orang lain tersebut. Pada sistem terdistribusi, user mungkin saja

mendelegasikan proses pada objek lain, sehingga objek tersebut dapat digunakan untuk

kepentingannya.

Ø Kurangnya accountability, misalnya identitas user yang tidak mencukupi

Ø Penyadapan untuk mendapatkan data yang seharusnya dirahasiakan

Ø Memodifikasi pada komunikasi antar objek (mengubah, menambah maupun menghapus

item)

Tingkat keamanan suatu sistem yang merupakan sasaran bagi berbagai macam

serangan, kadang merupakan hasil tawar-menawar pada desain dan implementasi, biasanya untuk mencapai tujuan yang dinginkan seperti penambahan kinerja atau fungsi tambahan.

v Goal

Hal-hal mendasar pada sistem keamanan, yaitu confidentiality, integrity, accountability, dan availability adalah dasar untuk membangun sistem keanaman pada CORBA. Namun, sistem CORBA bukanlah jenis sistem informasi biasa, melainkan karena sifat terdistribusinya, sistem ini memiliki potensi ancaman yang mungkin tidak terdapat pada sistem lain. Oleh karena sifat terdistribusi tersebut, beberapa tujuan keamanan yang khusus pada CORBA adalah:

Ø menyediakan keamanan atas sistem heterogen dimana vendor yang berbeda mungkin

mensuplai ORB yang berbeda pula

Ø karena sistem CORBA berorientasi objek, maka spesifikasi-nya juga harus berorientasi

objek:

- interface harus sepenuhnya objek oriented murni

- model harus menggunakan enkapsulasi untuk menampilkan kesatuan sistem dan

Ø menyembunyikan kompleksitas mekanisme sekuriti dibawah interface sederhana

- model harus mengizinkan implementasi polimorfisme pada objeknya yang berbasis

Ø pada mekanisme lapisan bawah berbeda, sehingga menyediakan apa yang disebut

teknologi keamanan independen

Ø Secure Object Invocation, untuk memastikan invocation diproteksi oleh aturan sekuriti

Ø Access Control dan Auditing, untuk memastikan bahwa accsess control dan auditing

yang diperlukan telah diterapkan pada invocation objek.

v Fitur

Dalam rangka menghadapi ancaman yang telah disebutkan diatas dan mencapai tujuan yang diinginkan, spesifikasi OMG menentukan fitur-fitur kunci yang harus diproses oleh sistem keamanan pada CORBA, yaitu:

Ø Identification dan Authentication

Ø Authorisation dan Access control (memutuskan apakah suatu user dapat mengakses objek (umumnya menggunakan identitas secara normal dan/atau atribut istimewa lain)

dan apakah atribut kontrol dari objek target dapat mengaksesnya)

Ø Security Auditing (untuk membuat mencatat semua kegiatan user yang berhuungan

dengan sekuriti. Mekanisme auditing harus harus dapat mengidentifikasi user secara

benar, bahkan setelah rangkaian call melalui banyak objek)

Ø Keamanan dari komunikasi antar objek (hal ini memerlukan koneksi yang terpercaya

antara client dan target, yang mungkin memerlukan autentifikasi dari client untuk target,

maupun autentifikasi dari target untuk client. Hal ini juga memerlukan integrity

Ø protection dan confidentiality protection untuk message yang dikirimkan antar object)

Ø Non-repudiation (menyediakan bukti nyata dari suatu aksi yang dilakukan oleh user)

Ø Administrasi dari informasi sekuriti.

v Penerapan Sistem Keamanan

Spesifikasi keamanan CORBA menentukan bagaimana menyediakan keamanan dalam sistem CORBA. Spesifikasi tersebut mendefiniskan dua level fungsionalitas sekuriti yang utama (main security functionality), yaitu:

Level 1: menyediakan keamanan pada level pertama untuk aplikasi yang tidak peduli

pada keamanan dan untuk yang memiliki kemampuan terbatas dalam menangani sekuriti

mereka (dalam arti access control dan auditing).

Level 2: menyediakan fasilitas keamanan yang lebih tinggi dan mengizinkan aplikasi

untuk mengontrol keamanan yang disediakan pada invokasi objek. Level ini juga

termasuk administrasi dari aturan sekuriti. Sebagai tambahan pada dua level sekuriti dasar ini, spesifikasi OMG juga menentukan suatu arsitektur yang dapat mensuport bermacam-macam aturan keamanan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda.

v Model Keamanan

Model referensi sekuriti yang didefinisikan pada spesifikasi OMG adalah model yang mendeskripsikan keseluruhan framework dari sistem keamanan CORBA, dengan tujuan untuk memperlihatkan fleksibilitas yang diperlukan untuk mendefinisikan berbagai aturan sekuriti yang berbeda-beda.

Gambar berikut ini merepresentasikan ensensi dari model tersebut secara

sederhana:

Secara actual, model tersebut sebagai keseluruhan dibagi menjadi beberpa model terpisah, bagian yang paling penting adalah apa yang disebut “Principle” beserta atributatributnya,dan Secure Object Invocations. Principle didefinisikan sebagai user dan objek yang perlu beroperasi sendiri. Intinya, model tersebut mendeskripsikan mengapa dan bagaimana user dan apa yang dapat dilakukan mereka dapat dimodelkan. Membuat identifikasi dan authorisasi pada tiap invokasi akan tidak efisien, oleh karena itu model tersebut mengenalkan konsep tentang asosiasi security. Dengan konsep keamanan asosiasi tersebut, identifikasi dan authorisasi tetap bertahan untuk banyak interaksi, tidak hanya untuk sebuah invokasi. Secure Object Invocation menanggulangi masalah pada komunikasi yang tidak aman melalui message protection. Message dapat diproteksi dengan menggunakan algoritma enkripsi baik simetrik maupun asimetrik. Message hanya diprotek dengan kualitas proteksi yang diperlukan oleh aturan keamanan, hal ini mungkin dilakukan untuk memastikan integritas dan menyediakan konfidentialitas. Bila keamanan telah disediakan oleh layer dibawahnya (missal melalui SSL), maka komunikasi software pada ORB tidak perlu menyediakan sekuriti sendiri.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Komputasi terdistribusi merupakan sesuatu yang amat kompleks, apalagi jika ruang lingkupnya sangat luas (pada level enterprise misalnya). CORBA membantu menyederhanakan persoalan dengan menyembunyikan berbagai detail pekerjaan pada level rendah dan heterogenitas sistem dan platform. Lebih lanjut, arsitektur OMA menyediakan sebuah framework pengembangan sistem terdistribusi yang konsisten, sehingga heterogenitas tetap dapat dikelola dengan baik.

Daftar Pustaka

Yosef, Ian. Pemrograman Terdistribusi dan CORBA, Diktat Kuliah, 2001

Ballegooy, A.R. van. The CORBA security service. Essay for the course : "Object

Oriented Programming". 1998

Lang, Ulrich. CORBA Security on the Web: An Overview. University of Cambridge

Computer Laboratory. 1999

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2014. Olan Arsyad